Artikel Warga : Tak ada yang peduli kepada dia yang selalu peduli | PKBM AL-MASTHURIYAH
![]() |
Ilustrator Photo Gemini IA, Yang dikirima oleh Warga |
Cerpen - Ada sejenis rasa lelah yang meresap ke tulang — bukan karena kurang tidur, tetapi karena membawa beban terlalu banyak dalam waktu terlalu lama. Lelah yang muncul karena mencoba menjaga semuanya tetap utuh, sementara orang lain tidak mampu melakukannya.
Menjadi orang yang "selalu diharapkan" kedengaran mulia, bukan?
Orang-orang berpikir itu berarti kau bisa diandalkan, dewasa, dan cakap. Tapi yang tidak mereka lihat adalah betapa beratnya beban itu? Menjadi orang yang selalu memberi, yang selalu mengerti, yang terus berkata "tidak apa-apa" meskipun kenyataannya tidak.
Aku selalu menjadi orang seperti itu, setiap saat.
Orang yang menemukan solusi dari semua masalah. Orang yang memberi bahkan ketika tak ada lagi yang bisa diberikan.
Ketika ada yang butuh bantuan, aku akan cari jalan. Bahkan jika itu berarti mengorbankan kedamaianku yang sedikit ini hanya agar orang lain merasa nyaman.
Karena memang begitulah yang diharapkan. Begitulah kasih sayang, kan?
Namun akhir-akhir ini, aku mulai bertanya-tanya — mengapa kasih sayang harus terasa seperti ini?
Aneh sekali bagaimana kau merasa tidak terlihat saat kau sendiri yang menahan beban semuanya. Betapa mudahnya orang lupa bahwa kau juga lelah. Bahwa kau juga butuh bantuan.
Terkadang aku duduk di sana, bertanya-tanya dari mana aku akan mendapatkan sedikit kekuatan atau motivasi untuk terus maju. Aku berkata pada diri sendiri, "Kali ini, aku akan memilih diriku sendiri"
Tapi kemudian aku merasakan rasa bersalah merayapi... rasa sakit yang menusuk yang memberitahuku bahwa aku egois karena memikirkannya. Jadi aku menyerah lagi. Dan lagi. Sampai tak ada lagi yang tersisa untukku.
Dan bagian yang paling menakutkan? Aku sudah terbiasa.
Aku sudah terbiasa dengan keheningan yang datang setelah menjaga semuanya agar tetap utuh. Kesepian yang mengikuti setiap pengorbanan. Dimana tidak ada yang memeriksa apakah aku baik-baik saja karena akulah orang yang diharapkan selalu baik-baik saja.
Aku benci karena aku bahkan tak bisa marah. Aku benci karena aku masih bisa mengerti keadaan. Karena betapa pun sakitnya, aku tetap memilih mereka — orang-orang yang tak selalu menyadari betapa besar pengorbananku untuk tetap baik-baik saja.
Aku hanya butuh istirahat. Aku mau hari di mana aku tidak dibutuhkan.
Hari di mana aku tidak menghitung apa yang harus aku korbankan agar orang lain bisa merasa cukup.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya bernapas tanpa rasa bersalah, memilih diri sendiri tanpa merasa telah mengabaikan seseorang.
Aku ingin berhenti menjadi orang yang diandalkan semua orang, dan akhirnya menjadi seseorang yang dibiarkan hancur meski hanya sekali.















