-->

Senin, 01 September 2025

 DINAS PENDIDIKAN SUMENEP ADAKAN SEMARAK LOMBA AGUSTUSAN

DINAS PENDIDIKAN SUMENEP ADAKAN SEMARAK LOMBA AGUSTUSAN


Dinas Pendidikan Sumenep mengadakan Semarak Lomba Agustusan yang melibatkan semua bidang, termasuk pendidikan formal dan non formal. Lomba ini bertujuan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 dan meningkatkan semangat nasionalisme di kalangan siswa dan masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Bapak Agus Dwisaputro, menyatakan bahwa lomba ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. "Kami berharap bahwa lomba ini dapat meningkatkan semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan siswa dan masyarakat," ujarnya.


Semua bidang di Dinas Pendidikan Sumenep terlibat dalam lomba ini, termasuk bidang pendidikan formal, pendidikan non formal, dan bidang lainnya. Mereka berpartisipasi dalam berbagai jenis lomba, seperti lomba pidato, lomba menyanyi, lomba membuat poster, dan lain-lain.

"Kami sangat senang dapat berpartisipasi dalam lomba ini dan menunjukkan kemampuan kami," ujar Mahfud Reyadi, salah satu peserta dari PKBM Al-Masthuriyah.



Semarak Lomba Agustusan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, serta meningkatkan semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan siswa dan masyarakat. (Red)

Sabtu, 23 Agustus 2025

TIM ASESSOR BADAN AKREDITASI PROVINSI JAWA TIMUR LAKSANAKAN VISITASI KE PKBM AL-MASTHURIYAH

TIM ASESSOR BADAN AKREDITASI PROVINSI JAWA TIMUR LAKSANAKAN VISITASI KE PKBM AL-MASTHURIYAH


Badan Akreditasi Provinsi Jawa Timur melaksanakan visitasi ke PKBM Al-Masthuriyah Desa Basoka Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep dalam rangka penilaian akreditasi lembaga pendidikan. Tim asesor yang terdiri dari beberapa orang ahli pendidikan melakukan penilaian terhadap berbagai aspek lembaga pendidikan, termasuk kualitas pendidikan, manajemen, dan sarana prasarana.

Kepala PKBM Al-Masthuriyah, Mahfud Reyadi menyatakan bahwa PKBM Al-Masthuriyah sangat siap untuk menghadapi visitasi ini. "Kami telah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk visitasi ini, termasuk dokumen-dokumen yang diperlukan dan sarana prasarana yang memadai," ujarnya.

Tim asesor melakukan penilaian dengan cara observasi langsung ke lembaga pendidikan, wawancara dengan pengelola dan peserta didik, serta memeriksa dokumen-dokumen yang diperlukan. Mereka juga melakukan penilaian terhadap kualitas pendidikan, manajemen, dan sarana prasarana yang ada di lembaga pendidikan.

Hasil visitasi ini akan digunakan sebagai acuan untuk menentukan status akreditasi PKBM Al-Masthuriyah. PKBM Al-Masthuriyah berharap dapat memperoleh hasil yang baik dan dapat mempertahankan status akreditasi yang telah diperoleh sebelumnya. (Red )

Jumat, 22 Agustus 2025

TBM AL-MASTHURIYAH ADAKAN TOUR ZIAROH RELIGI

TBM AL-MASTHURIYAH ADAKAN TOUR ZIAROH RELIGI

TBM Al-Masthuriyah mengadakan tour ziaroh religi yang diikuti oleh siswa-siswi dan guru-guru pada hari ini. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa tentang nilai-nilai agama dan spiritual.


Tour ziaroh religi ini mengunjungi beberapa tempat ibadah dan situs religi di sekitar daerah, termasuk masjid, makam para ulama, dan situs sejarah Islam. Siswa-siswi dan guru-guru dapat belajar tentang sejarah dan makna dari setiap tempat yang dikunjungi.


Pengelola TBM Al-Masthuriyah, Mahfud Reyadi, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa tentang nilai-nilai agama dan spiritual. "Kami berharap bahwa kegiatan ini dapat membantu siswa-siswi kami menjadi lebih peduli dan menghargai nilai-nilai agama dan spiritual," ujarnya.


Siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ini juga menyatakan bahwa mereka sangat menikmati dan mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang agama dan spiritual. "Saya sangat senang dapat belajar tentang sejarah dan makna dari setiap tempat yang dikunjungi," ujar Firda.


Tour ziaroh religi ini diharapkan dapat menjadi kegiatan yang rutin di TBM Al-Masthuriyah, sehingga siswa-siswi dapat terus belajar dan meningkatkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang nilai-nilai agama dan spiritual. (Red)

Sabtu, 26 April 2025

Ujian Pendidikan Kesetaraan Paket C Setara SMA | PKBM AL-MASTHURIYAH

Ujian Pendidikan Kesetaraan Paket C Setara SMA | PKBM AL-MASTHURIYAH


Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Masturiyah Desa Basoka Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep Dibawah binaan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur,

Selama Empat hari Sebanyak 17 warga belajar dari berbagai Desa yang terdaftar di PKBM Al-Masturiyah mengukuti Kegiatan Uji Kesetaraan Paket C,

Mereka terlihat antusias dan optimis dalam mengerjakan soal-soal ujian yang diberikan, dengan harapan ujian tersebut bisa membuka jalan bagi mereka untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang lebih baik.

Uji kesetaraan ini merupakan salah satu bentuk penjaminan mutu bagi lulusan program pendidikan kesetaraan yang nantinya akan memperoleh sertifikat hasil uji kesetaraan  (bagi yg memperoleh hasil nilai sesuai KKM) dan atau surat keterangan hasil uji kesetaraan,

Kepala Satuan PKBM Al-Masthuriyah, menyatakan bahwa pelaksanaan Uji Kesetaraan ini adalah bagian dari komitmen PKBM Al-Masthuriyah dalam mendukung program pendidikan nasional, khususnya dalam memberikan kesempatan belajar yang lebih luas kepada masyarakat.

“Kami berharap dengan adanya Uji Kesetaraan ini, para peserta didik dapat memperoleh kesempatan yang sama dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau memasuki dunia kerja,” ujarnya.

Semoga para peserta dapat lulus dengan hasil yang memuaskan dan mendapatkan ijazah/sertifikat yang diakui setara dengan ijazah SMA. Ia menegaskan, PKBM Al-Masthuriyah terus berkomitmen untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program pendidikan di PKBM Al-Masthuriyah, masyarakat dapat menghubungi kantor PKBM atau mengunjungi website resmi Al-Masthuriyah. (Tim Red)

Kamis, 17 April 2025

HALAL BIHALAL TBM AL-MASTHURIYAH

HALAL BIHALAL TBM AL-MASTHURIYAH

 


Hari pertama memulai kegiatan Jum'at 11 April 2025 setelah peserta didik libur panjang Idul Fitri 1446 Hijriyah menjadi momen yang istimewa, Tradisi halal bihalal digelar dengan penuh kehangatan, mempererat tali silaturahmi antar peserta didik, Tutor dan Orang tuan Anak-anak


Acara yang berlangsung di tempat saung sinau  diawali dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan sambutan ketua Taman Baca Masyarakat Al-Masthuriyah dan ditutup dengan doa. Suasana haru dan bahagia terpancar dari wajah para peserta didik yang saling bersalaman dan bermaaf-maafan.


Ketua Taman Baca Masyarakat Al-Masthuriyah Fitri Handayani Puspitasari, S.Pd. dalam sambutannya menyampaikan pentingnya menjaga kerukunan dan saling memaafkan. "Halal bihalal ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga momen untuk memperkuat persaudaraan dan memulai lembaran baru setelah satu bulan penuh kita puasa dengan hati yang bersih kembali"



Pada kegiatan halal bihalal ini para peserta didik tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara. "Senang sekali bisa bertemu teman-teman lagi setelah libur panjang. Halal bihalal ini membuat kami semakin dekat dan semangat untuk belajar bersama," ungkap salah satu peserta didik. Kegiatan hari ini diakhiri dengan kegiatan ramah tamah peserta didik dengan tutor kelas masing-masing dan ramah tamah.


Acara halal bihalal ini diharapkan dapat menjadi awal kembalinya kita dalam memberikan hal kebaikan dalam menjalani proses belajar dengan semangat persatuan dan kebersamaan.


Minggu, 05 Januari 2025

Tanean Lanjheng Tradisi Madura | PKBM AL-MASTHURIYAH

Tanean Lanjheng Tradisi Madura | PKBM AL-MASTHURIYAH

Tanèyan Lanjhang (dalam bahasa Madura) adalah pola permukiman tradisional suku Madura. Taneyan Lanjhang berasal dari bahasa Madura dan terdiri dua kata, yaitu taneyan yang berarti halaman, dan lanjhang yang artinya panjang; jadi taneyan lanjhang merujuk pada halaman rumah yang panjang. Susunan rumah-rumah ini terdiri atas keluarga-keluarga yang mengikatnya. Letak rumah berjejar dengan urutan timur ke barat, sehingga kepemilikan halamannya dipunyai bersama. Secara aturan tradisional, uniknya rumah-rumah ini hanya akan menghadap ke arah utara dan selatan. Satu taneyan lanjhang dihuni keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya.

Sabtu, 13 April 2024

 Hari Raya Idhul Fitri ( Tellasan) Tradisi Yang dirindukan | PKBM AL-MASTHURIYAH

Hari Raya Idhul Fitri ( Tellasan) Tradisi Yang dirindukan | PKBM AL-MASTHURIYAH

Hari Raya Idhul fitri orang madura menyebutnya Tellasan - tellasan bagi orang Madura adalah momen paling ditunggu-tunggu.

DI Madura dikenal berbagai macam istilah tellasan. Ada tellasan rama atau tellasan agung, tellasan reyaja atau tellasan ajji, tellasan topa’ atau tellasan petto’. Tellasan rama adalah tellasan yang dirayakan menandai usainya puasa Ramadlan.


Tellasan adalah momen yang senantiasa dirindukan setiap keluarga di Madura. Ada banyak macam tradisi yang menandakan suasana guyub dan ketulusan. Saling berkunjung, bunyi petasan, tradisi ter-ater adalah sekian momen yang dirindukan. Momen yang kerap membuat Madura perantauan berlinang air mata karena tak bisa pulang.


Menjelang Ramadlan usai, riuh ramai orang ter-ater mulai terasa. Ter-ater adalah semacam tradisi saling berkunjung antar sanak famili. Masing-masing membawa hidangan/kuliner khas olahan keluarganya, meskipun olahan itu kadang tak jauh beda satu sama lain.


Malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadlan adalah saat di mana tradisi ter-ater mulai ramai. Orang Madura yakin bahwa pada malam-malam itu kemungkinan Lailatul Qadar turun.


Orang Madura menyebutnya malemman. Ada malemman salekor, tello lekor, sagame’, dan petto lekor. Seperti telah ada kesepakatan tak tertulis antarkampung karena masing-masing kampung memiliki malemman sendiri. Dan di setiap malemman itu ada tradisi berkunjung dan ter-ater lintas kampung yang riuh gempita.


Setiap malemman suasana ter-ater antarkampung pasti ramai. Dengan menu wajib yang sama, yaitu palotan. Palotan adalah kuliner dengan bahan beras ketan yang dimasak dengan santan. Rasanya khas, gurih, dan legit.


Bagi orang luar Madura atau mungkin generasi muda Madura yang sudah mengenyam pendidikan modern, tradisi ter-ater mungkin tak lebih dari sekadar tukar-menukar makanan. Aktivitas yang buang-buang energi, tidak kreatif, yang disuguhkan monoton, dan membosankan.


Pola pikir modern kadang memang sulit memahami dunia makna dan kearifan di balik tradisi. Pola pikir instan yang menganggap bahwa segala sesuatu haruslah efisien dan praktis, namun kering makna.


Orang Madura menjalankan ritus ter-ater ini dengan penuh kebermaknaan. Sebagai tradisi ia mampu menghadirkan kepuasan dan kebahagiaan batin yang tak bisa dinilai harganya hanya dengan sekadar nilai hantarannya. Orang Madura memegang teguh nilai usaha dan ketulusan.


Masuk akal jika ada cerita seorang kakek dari Madura membawa ayam khusus dari Madura untuk dihadiahkan pada cucunya yang ada di Jember. Jauh-jauh si ayam ikut naik bus jurusan Madura–Jember. Bukankah jika berpikir praktis dia bisa beli ayam untuk cucunya itu di Jember dan tidak perlu susah payah bawa ayam dari Madura. Tapi begitulah cara orang Madura mengekspresikan niat dan kesungguhannya.


Soal makan, orang Madura memang sangat sederhana. Bisa dikatakan selalu itu itu saja. Ter-ater malemman dan ter-ater tellasan adalah suatu simbol yang mewakili makna kuatnya intensitas rohaniah orang Madura. Menu makanan hanya alasan untuk bertemu, bukan bertemu karena menu makanan.


Begitu melekatnya tradisi-tradisi itu dalam benak orang Madura, sehingga kadang tidak penting lagi bentuk dan penampilannya. Yang penting adalah maknanya bisa tersampaikan. Salah satunya bisa kita lihat dalam tradisi ter-ater tellasan.


Ter-ater adalah kearifan lokal masyarakat Madura untuk mempertahankan jalinan mesra antara keluarga, handai tolan, dan tetangga. Seiring waktu, tradisi ter-ater mulai tergerus erosi modernitas dan pola pikir pragmatis.


Banyak generasi Madura mulai enggan dan gengsi melakukannya. Perannya sudah tergantikan dengan tren baru silaturrahmi online via Facebook, WAG, IG, Twitter, dll. Kita hanya bisa berharap semoga ter-ater tellasan selalu menjadi tradisi yang lestari dan dirindukan. (Red)

Jumat, 12 Agustus 2022

 Budaya Madura yang Masih Kental di Masyarakat | PKBM AL-MASTHURIYAH

Budaya Madura yang Masih Kental di Masyarakat | PKBM AL-MASTHURIYAH



1 Rokat

Rokat adalah upacara petik laut yang biasa disebut Rokat Tase. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur atas karunia dan nikmat yang diberikan oleh Tuhan Tradisi ini juga dipercaya dapat memberikan keselamatan dan kelancaran rezeki.


Tradisi rokat dimulai dengan acara pembacaan istighosah dan tahlil bersama masyarakat dengan dipimpin pemuka agama. Setelah itu, masyarakat menghanyutkan sesaji ke laut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Isi dari sesaji itu adalah tumpeng, ketan berwarna-warni, dan ikan-ikan.


2 Mondok

Mayoritas suku Madura beragama Islam. Madura memiliki ratusan pondok pesantren Islam. Sudah menjadi kebiasaan suku Madura untuk menyekolahkan anak-anaknya ke pondok pesantren. Suku Madura beranggapan ilmu agama lebih penting daripada ilmu dunia. Mereka menyebutnya dengan istilah mondok daripada menyekolahkan anak-anak ke sekolah-sekolah umum.


Bahkan suku Madura terbiasa melepas anak-anak untuk mondok sejak usia kecil. Anak-anak mondok tidak hanya di sekitaran pulau Madura tetapi hingga ke wilayah-wilayah Jawa Timur berbasis pondok pesantren Islam.



3 Patuh pada Kiai

Kebudayaan suku Madura lainnya yakni patuh pada kiai. Kebiasaan mondok dan keteguhan pada ajaran Islam membuat suku Madura tunduk dan patuh pada kiai. Kiai merupakan sosok yang sangat dihormati oleh orang suku Madura. Bahkan ada pepatah, sejahat-jahatnya orang Madura, mereka akan tetap patuh dan tidak berani melawan kiai dan guru.


4. Clurit

Suku Madura memiliki senjata tradisional khas yang disebut clurit. Bentuk Clurit mirip dengan arit di suku Jawa yang biasa digunakan untuk bertani dan berkebun. Bedanya, clurit dari Madura lebih ramping dengan lingkar lengkung yang lebih tipis. Ujung clurit juga lebih lancip. Gagang clurit terbuat dari besi atau kayu.


5. Carok

Budaya suku Madura berikutnya yakni tradisi carok. Carok adalah duel sampai mati dengan menggunakan senjata tajam yakni celurit. Orang Madura memiliki watak keras dan mengedepankan harga diri. Karena itu, masalah diselesaikan dengan cara kekerasan.


Semoga menginspirasi

Rabu, 30 Maret 2022

BUDAYA MADURA YANG TAK TERPISAHKAN

BUDAYA MADURA YANG TAK TERPISAHKAN

@ Ilustrasi Photo Kerapan Sapi Madura

1. Karapan Sapi

Karapan Sapi adalah budaya suku Madura yang digelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September. Pada perlombaan ini, sepasang sapi menarik semacam kereta dari kayu dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter.


Lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun. Final pertandingan itu pada akhir September atau Oktober di eks Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan piala bergilir presiden. Kini piala itu berganti nama menjadi piala gubernur.


2. Clurit

Suku Madura memiliki senjata tradisional khas yang disebut clurit. Bentuk Clurit mirip dengan arit di suku Jawa yang biasa digunakan untuk bertani dan berkebun. Bedanya, clurit dari Madura lebih ramping dengan lingkar lengkung yang lebih tipis. Ujung clurit juga lebih lancip. Gagang clurit terbuat dari besi atau kayu.


3. Carok

Budaya suku Madura berikutnya yakni tradisi carok. Carok adalah duel sampai mati dengan menggunakan senjata tajam yakni celurit. Orang Madura memiliki watak keras dan mengedepankan harga diri. Karena itu, masalah diselesaikan dengan cara kekerasan.


Carok biasanya terjadi menyangkut masalah-masalah terkait kehormatan atau harga diri bagi orang Madura, seperti perselingkuhan dan harkat martabat atau kehormatan keluarga. Meski mayoritas suku Madura beragama Islam namun secara individual banyak yang masih memegang tradisi carok.


4. Haji Tujuan Akhir

Budaya Suku Madura lainnya yakni haji sebagai tujuan akhir. Suku Madura dikenal hemat dan ulet dalam berusaha, bekerja, atau berdagang. Meski gajinya kecil namun mereka menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji.


Predikat haji di Madura masih menjadi kebanggaan tersendiri. Bahkan mereka lebih mengutamakan Lebaran Haji dibanding Lebaran Idul Fitri. Suku Madura tidak akan pulang kampung pada Lebaran Idul Fitri. Mereka akan pulang kampung pada Lebaran Haji.


5. Toktok

Tradisi Toktok adalah kompetisi aduan sapi. Dua sapi saling berhadapan dan saling seruduk. Sapi yang diadu biasanya sapi jantan. Kedua sapi beradu kekuatan hingga salah satu menyerah bahkan lari dari lawannya.


Aduan Toktok ini harus didampingi wasit. Namun tidak sembarang orang bisa menjadi wasit. Sebab hal itu akan membahayakan orang yang sedang menonton.


6. Rokat

Rokat adalah upacara petik laut yang biasa disebut Rokat Tase. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur atas karunia dan nikmat yang diberikan oleh Tuhan Tradisi ini juga dipercaya dapat memberikan keselamatan dan kelancaran rezeki.


Tradisi rokat dimulai dengan acara pembacaan istighosah dan tahlil bersama masyarakat dengan dipimpin pemuka agama. Setelah itu, masyarakat menghanyutkan sesaji ke laut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Isi dari sesaji itu adalah tumpeng, ketan berwarna-warni, dan ikan-ikan.


7. Mondok

Mayoritas suku Madura beragama Islam. Madura memiliki ratusan pondok pesantren Islam. Sudah menjadi kebiasaan suku Madura untuk menyekolahkan anak-anaknya ke pondok pesantren. Suku Madura beranggapan ilmu agama lebih penting daripada ilmu dunia. Mereka menyebutnya dengan istilah mondok daripada


8. Patuh pada Kiai

Kebudayaan suku Madura lainnya yakni patuh pada kiai. Kebiasaan mondok dan keteguhan pada ajaran Islam membuat suku Madura tunduk dan patuh pada kiai. Kiai merupakan sosok yang sangat dihormati oleh orang suku Madura. Bahkan ada pepatah, sejahat-jahatnya orang Madura, mereka akan tetap patuh dan tidak berani melawan kiai dan guru.