-->

Sabtu, 16 Mei 2026

Kolaborasi dari Akar Rumput, Menggugah Literasi dari Ujung Timur Madura

Doc Jambore Forum Taman Baca Jawa Timur
KEDIRI – Kehadiran perwakilan Kabupaten Sumenep di ajang Jambore Taman Bacaan Masyarakat (TBM) 2026 di Kabupaten Kediri bukan sekadar urusan menghadiri undangan formal. Jauh-jauh menempuh perjalanan dari ujung timur Pulau Madura, membawa misi besar yang melintasi batas geografis: menyalakan kembali api minat baca yang mulai redup di era digital.

Bagi Mahfud Reyadi, pendiri TBM Al-Masthuriyah, dan Bapak Ismail, Ketua TBM Nurul Musthafa, literasi bukanlah slogan muluk di atas kertas. Literasi adalah fondasi peradaban.

Di tengah gempuran gawai, di mana generasi muda lebih akrab dengan ketukan layar (scrolling) media sosial, kedua penggerak literasi asal Sumenep ini melihat adanya ancaman nyata: pudarnya daya tahan membaca buku fisik dan menurunnya kemampuan berpikir kritis sejak dini.

"Kami hadir di Jambore ini tidak hanya untuk mendengar atau menjadi penonton," ujar Mahfud Reyadi penuh semangat. 

"Kami membawa misi nyata mengajak anak-anak mengenali literasi sejak usia dini. Buku adalah jendela peradaban dunia, dan tugas kita bersama untuk memastikan jendela itu tidak tertutup oleh kemalasan."

Senada dengan Mahfud, Bapak Ismail juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan baru yang sederhana namun berdampak masif. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari orang tua, pendidik, hingga pemerintah—untuk mulai meluangkan waktu membaca.

Strategi yang ditawarkan oleh duo penggerak literasi Sumenep ini sangat membumi. Mereka tidak menuntut masyarakat untuk langsung membaca berjam-jam, melainkan memulainya dari langkah kecil.

Mengenalkan buku kepada anak-anak lewat visual dan cerita menarik sebelum mereka kecanduan gawai. Mengajak masyarakat membaca buku fisik hanya beberapa menit saja setiap hari sebagai pemantik awal keterbiasaan. Mengubah beberapa menit tersebut menjadi rutinitas harian hingga membaca kembali menjadi sebuah gaya hidup, bukan beban.

Melalui momentum Jambore TBM 2026 ini, TBM Al-Masthuriyah dan TBM Nurul Musthafa berharap aksi mereka di Sumenep bisa merekatkan kolaborasi yang lebih luas dengan penggerak literasi se-Indonesia.

Sebab, menyelamatkan generasi dari penyakit "malas membaca" akibat candu layar digital tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan ketukan hati dari seluruh elemen masyarakat, agar jemari anak-anak bangsa tidak hanya lihai mengetuk layar ponsel, tetapi juga terbiasa membalik halaman-halaman buku yang penuh ilmu.

Dari ujung timur Madura untuk peradaban dunia, Madura membuktikan bahwa mereka siap bergerak, bersuara, dan berdampak.

Tags :

bm

AL MASTHURIYAH INSTITUT

KI HAJAR DEWANTARA

  • "-" (Di depan memberi Contoh)
  • "-" (Di tengah Memberi Bimbingan)
  • "-" (Di belakang Memberi Dorongan)

  • : AL-MASTHURIYAH INSTITUT
  • : 13 Februari 2021
  • : Basoka -Rubaru
  • : mahfudp@gmail.com
  • : 081807056262